Pernah denger kalau kehidupan itu berputar? Ya, untuk masalah perekonomian ini sangat popular dengan anggapan kehidupan itu berputar, kadang berada diatas dan kadang berada di bawah. Kadang kita hidup berkecukupan –malah bisa jadi berlebih- dan kadang hidup kekurangan. Namun ternyata selain itu, perputaran kehidupan itu juga bisa terjadi pada sifat dan keadaan pribadi kita. Kita datang ke dunia ini yang disebut lahir, lalu kita pun akan hilang dari dunia ini yang disebut mati.
Untuk sifatpun seperti itu. Saat anak-anak, sifat kita ya memang kekanak-kanakan. Bertambah usia menjadi remaja dan dewasa, sifat kita mulai berubah menjadi agak matang dan bertambah matang. Namun, saat di usia tua, teori mengatakan bahwa sifat manusia akan berputar kembali menjadi sifat anak-anak. Untuk lebih yakin lagi, mungkin bisa cari mengenai teori perkembangan dewasa akhir. Kalau tidak salah ingat, salah satu pemuka teori Psikoanalisa, Freud juga pernah mengemukakan teori mengenai hal ini. Silahkan search sendiri yaaaa.. hehehehe.
Tapi apakah benar? Mungkin kita sedang mengalaminya sendiri yaitu sedang menghadapi orang tua kita/ mertua/ kakek-nenek kita sendiri. Atau mungkin kelak kita yang mengalaminya sendiri!
Nah bagaimana menghadapinya? Selama 4 tahun belajar ilmu mengenai tingkah laku manusia, kenyataannya realita kehidupan lebih kompleks daripada sekedar teori. Mungkin akan lebih mudah bagi saya untuk menghadapi sifat kekanak-kanakan pada anak-anak daripada menghadapi sifat kekanak-kanakan pada orang tua. Salah satu jurus jitu yang biasa saya andalkan adalah dengan mengatakan iya ataupun hanya bersabar. Jika memang sudah sampai menjadi tahap yang menjengkelkan hanya bisa membesarkan hati dengan berbicara pada diri sendiri, “ya.. namanya juga orang tua” sebagai pengganti "namanya juga anak-anak!"
Tapi, saya tidak mau tenggelam dalam ketidaksukaan. Siapa sangka sifat kekanak-kanakan yang terjadi pada orang lanjut usia itu hanya timbul sebagai perasaan atau prasangka saya sendiri. Dan sepertinya, saya perlu berintrospeksi diri dan menganggap wajar semua hal ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar